7 Agt 2015

BERANILAH!!!

          Pada umur 17th ini, aku pikir akan lebih sedikit dewasa dan berani melakukan hal-hal yang selama ini hanya ada dalam pikiran. Tapi, umur 17 ini belum cukup membuat ku dewasa dan berani menghadapi setiap masalah yang ada. Dari kecil aku memang pengecut takut dengan hal-hal sepele. Ketakutan akan orang baru yang masih membuat mulut aku terkunci untuk berkata, ketakutan akan kesalahan yang aku perbuat saat di depan orang-orang, ketakutan dengan hal baru, ketakutan dengan isi pikiran orang lain terhadap aku. Tapi satu yang membuat aku berbeda, saat kecil aku adalah anak perempuan yang berani dengan serangga yang di benci anak perempuan pada umumnya . Aku lebih suka jahil dan berantem dengan anak laki-laki dari pada berbincang seperti anak perempuan lainnya.
        Aku merasa lelah, lelah dengan semua sikap pengecut ini. Ingin rasanya seperti anak perempuan lain yang pasih berbahasa dan berkata. Tidak sepertiku yang kadang kata-kata membuatku takut, semua percakapan yang telah aku susun di kepala tak pernah sama dengan yang aku ucapkan, semua itu menjadikan aku menjadi pribadi yang tidak banyak berkata. Aku takut saat salah mengucapkan kata-kata, aku takut ceritaku tak semenarik orang lain, aku takut orang bosan mendengarkan kata-kata ku yang buruk dan seakan acak-acakan.
         Tapi sekarang semakin bertambahnya umurku. Ketakutan-ketakutan itu mulai sedikit memudar. Aku sedikit bisa mengatasi ketakutan ku untuk berkata dan belajar lebih banyak berbicara, walaupun cara aku berbicara masih saja buruk dan kacau. Aku mencoba untuk memulai menyapa orang lain yang biasanya tak pernah aku lakukan, memulai pembicaraan yang biasanya aku takut untuk memulai pertama, meminta bantuan orang lain yang dulu aku enggan untuk meminta tolong. Walaupun tak banyak yang berubah tapi perlahan aku merasa "Ini lah hidup. Hidup tanpa harus takut dengan hal-hal sepele sepeti takut berbicara, takut berteman, takut meminta tolong".
           Dari dulu aku sangat tertarik dengan Teknologi. Bahkan saat Kaka ku masup sekolah SMK dan mengambil jurusan RPL aku ikut bangga dan saat lulus aku ingin melanjutkan ke SMK dan mengambil jurusan RPL atau TKJ, tapi sayang orang tua ku tidak mengizinkan. Pada akhirnya aku masuk Smk kesehatan yang bahkan tidak pernah terpikir untuk masuk Smk kesehatan. Dari kecil aku tidak terlalu suka dengan orang-orang kesehatan, walapun aku senang dengan info-info kesehatan.
          Pada hari pertama aku masup sekolah aku takut, takut saat orang bertanya "kenapa kamu masup sekolah ini, alasan apa kamu memilih jurusan ini" aku bingung harus menjawab apa. Bahkan saat aku tau seperti apa jadinya nanti dengan jurusan yang aku pelajari ini, aku mengeluh dalam hati "kenapa sih harus Sekolah kesehatan, kenapa harus jurusan seperti ini, kenapa aku harus mempelajari ini yang bahkan aku membencinya, kenapa aku harus membuat sesuatu yang bahkan aku tak suka memakannya". Setiap hari, setiap saat aku mengeluh tapi tetap aku jalani. Tanpa berusaha kabur dari semua itu, aku bisa saja melakukannya, tapi aku tau ini adalah kesalahan ku yang terlalu cepat menyerah dan menyerahkan semuanya kapada orang tuaku.
             Hari demi hari aku jalani walapun berat tapi aku tau bukan hanya aku yang mengalami hal ini, bahkan teman-teman sekelas ku juga mengalaminya. Di kelas aku seorang yang di anggap lumayan mengerti dengan hal-hal teknologi oleh teman ku. Tak jarang aku di anggap aneh dengan hobi-hobi yang aku bawa dengan nyata dari internet. Bahkan aku Perempuan satu-satunya yang selalu di mintain Anime oleh Teman laki-laki di kelas yang hanya 9 orang itu. Dari dulu aku memang selalu berbeda dengan perempuan pada umumnya. Tapi sekarang aku hanya ingin lulus dari sekolah ini, walapun 3 tahun ini aku belajar tidak sungguh-sungguh karena ketidak nyamanan ku yang masih mengganjal. Setidaknya aku harus membawa sedikit ilmu dari sekolah ini keluar bersamaku. Dan saat aku Lulus, aku berjanji dengan diriku untuk tidak cepat menyerah, dan terus memperjuangkan apa yang aku inginkan.

5 komentar:

  1. "Aku lebih suka jahil dan berantem dengan anak laki-laki dari pada berbincang seperti anak perempuan lainnya"

    BalasHapus